7.10.10

Filsafat Bahasa


Bahasa melayu purba berkembang pada saat zaman Sriwijaya di abad 4 sampai 14.
Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
Kerajaan Sriwijaya (dari abad ke-7 Masehi) memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuno) sebagai bahasa kenegaraan. Hal ini diketahui dari empat prasasti berusia berdekatan yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu. Pada saat itu bahasa Melayu yang digunakan bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta. Sebagai penguasa perdagangan di kepulauan ini (Nusantara), para pedagangnya membuat orang-orang yang berniaga terpaksa menggunakan bahasa Melayu, walaupun secara kurang sempurna. Hal ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal, yang secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti. Penemuan prasasti berbahasa Melayu Kuno di Jawa Tengah (berangka tahun abad ke-9) dan di dekat Bogor (Prasasti Bogor) dari abad ke-10 menunjukkan adanya penyebaran penggunaan bahasa ini di Pulau JawaKeping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat ManilaPulau Luzon, berangka tahun 900 Masehi juga menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.
Kemudian berkembang lagi menjadi bahasa melayu klasik dari abad 14 hingga abad 18, sejak abad 18 dikenal dengan istilah bahasa Melayu peralihan lalu berkembang lagi menjadi bahasa melayu baru di abad ke 20. 

Lalu bahasa itu menjadi bahasa melayu modern yang digunakan sebagai bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia. kemudian Pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi barulah diresmikan menjadi bahasa Indonesia.

Ciri-ciri Bahasa Melayu Kuno :
Aksara b sekarang berupa v (antara v dan w)
Tidak ada lafal e (berbentuk a atau o)
Awalan di-, dulu berupa ni-
awalan me-, dulu berupa ma-

Kemudian Malaysia, Singapore , Indonesia dan Brunei Darussalam membuat suatu lembaha bahasa bersama.
Dan akhirnya bahasa indonesia bisa berdiri sendiri dengan bantuan bahasa dari Malaysia, sehingga bahasa Indonesia dan Malaysia dianggap serumpun karena bahasanya yang hampir sama.


Pada awal abad ke-20, bahasa Melayu pecah menjadi dua. Di tahun 1901, Indonesia di bawah Belanda mengadopsi ejaan Van Ophuijsen sedangkan pada tahun 1904 Malaysia di bawahInggris mengadopsi ejaan Wilkinson.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar